Banjir Besar Melanda Sumatera, Hujan deras yang mengguyur Pulau Sumatera selama beberapa hari terakhir kembali memicu bencana banjir di sejumlah wilayah. Dari laporan yang beredar di lapangan, Kabupaten Agam di Sumatera Barat tercatat sebagai daerah yang mengalami dampak paling parah. Curah hujan ekstrem, meluapnya aliran Sungai Batang Agam, serta kondisi tanah yang jenuh membuat banjir meluber ke permukiman warga dan menenggelamkan ratusan rumah.
Banjir kali ini bukan hanya soal air yang naik beberapa jam dan surut begitu saja. Arus yang datang tiba-tiba menutup akses jalan, memutus koneksi antardesa, dan membuat warga harus dievakuasi menggunakan perahu karet. Bagi sebagian warga, bencana ini adalah kejadian paling berat dalam beberapa tahun terakhir.
Curah Hujan Tinggi Pecahkan Rekor Musiman
Banjir Besar Melanda Sumatera, Hujan deras yang dimulai sejak dini hari membawa volume air yang jauh lebih besar dari biasanya. Di beberapa titik, hujan turun tanpa jeda lebih dari delapan jam. Kondisi ini membuat sungai-sungai di sekitar Agam tak mampu menahan debit yang terus bertambah.
Para petugas cuaca menyebut pola hujan kali ini dipengaruhi penguatan angin monsun, yang meningkatkan potensi hujan lebat di wilayah barat Sumatera. Walau masyarakat sudah terbiasa menghadapi musim penghujan, intensitas tahun ini terbilang ekstrem.
Tak lama setelah hujan mencapai puncaknya, air mulai merendam halaman rumah-rumah warga. Dalam hitungan jam, air yang awalnya setinggi mata kaki berubah menjadi setinggi pinggang orang dewasa. Di daerah yang berada di cekungan—terutama Nagari Tiku dan Lubuk Basung—kondisi lebih buruk lagi karena air mengalir deras dari arah perbukitan.
Warga Berlarian ke Tempat Tinggi
Ketika air meningkat begitu cepat, banyak warga terpaksa menyelamatkan diri seadanya. Ada yang lari membawa tas kecil berisi dokumen penting, ada yang menggendong anak sambil menyusuri derasnya air, dan ada pula yang harus rela meninggalkan barang-barang karena tidak sempat diselamatkan.
Seorang warga Lubuk Basung, Andi (42), mengatakan bahwa air mulai masuk ke rumahnya sekitar pukul tujuh pagi, namun baru dua jam kemudian tinggi air naik drastis. “Saya kira bakal turun lagi, seperti banjir kemarin-kemarin. Ternyata makin tinggi. Anak-anak langsung saya bawa ke mushola yang agak tinggi. Motor sama barang lain nggak sempat kami selamatkan,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari warga Nagari Tiku. Tak sedikit yang harus bermalam di tempat pengungsian dengan pakaian basah dan tanpa banyak bawaan. Beberapa orang mengaku hanya membawa ponsel dan dompet, sementara pakaian dan perabotan mereka kini tenggelam di rumah masing-masing.
Tim SAR Kerahkan Perahu Karet dan Evakuasi Berlapis

Sebagai wilayah paling terdampak, Agam mendapat prioritas evakuasi. Tim SAR gabungan—terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan relawan lokal—langsung menyisir daerah-daerah yang sudah tidak bisa dijangkau kendaraan darat.
Perahu karet menjadi satu-satunya alat untuk mengakses rumah-rumah warga yang terendam hingga dada. Arus yang cukup kuat membuat proses evakuasi berjalan hati-hati. Petugas harus memastikan kondisi aman sebelum menjemput warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Posko pengungsian didirikan di beberapa sekolah, balai nagari, dan masjid besar. Di tempat-tempat ini, relawan dan masyarakat bahu membahu menyediakan makanan, air bersih, tikar, serta selimut. Namun persediaan logistik masih terbatas karena akses distribusi sulit ditembus.
“Jalan banyak yang tertutup lumpur dan pohon tumbang. Truk logistik harus memutar jauh,” kata salah satu anggota tim BPBD yang berjaga di posko Lubuk Basung.
Kerusakan Infrastruktur Cukup Serius
Banjir Besar Melanda Sumatera Banjir di Agam bukan hanya soal air yang merendam rumah. Beberapa infrastruktur vital ikut terdampak. Jembatan penghubung antarnagari rusak akibat derasnya arus. Beberapa tiang listrik tumbang, membuat sebagian warga harus bertahan tanpa penerangan pada malam pertama bencana.
Di pasar tradisional, lapak pedagang hanyut terbawa banjir. Sementara itu, sekolah-sekolah di kawasan rendah terendam hingga bangku-bangku kelas mengambang. Pemerintah daerah telah menginstruksikan penutupan sementara aktivitas belajar tatap muka sampai kondisi benar-benar membaik.
Akses ke fasilitas kesehatan juga terhambat. Meski puskesmas tetap beroperasi, banyak warga yang kesulitan mencapai lokasi. Akibatnya, beberapa pasien dengan kondisi khusus harus dievakuasi menggunakan perahu dan dibawa dengan kendaraan darurat menuju rumah sakit kabupaten.
Faktor Lingkungan Perburuk Situasi
Bencana ini bukan hanya karena hujan lebat. Kondisi lingkungan di sejumlah wilayah Agam makin memperparah dampak yang terjadi. Penyempitan aliran sungai di beberapa titik, sedimentasi yang belum tertangani, serta menyusutnya kawasan resapan air menjadi pemicu banjir meluas dengan cepat.
Warga mengaku sudah lama meminta normalisasi sungai, terutama di area Batang Agam, tetapi pekerjaan berjalan lambat. Banyak yang berharap kejadian kali ini bisa menjadi pemicu pemerintah mempercepat proyek tersebut.
Pakar lingkungan dari Sumatera Barat, dalam diskusi yang beredar, menyebut bahwa kombinasi antara cuaca ekstrem dan penurunan kualitas lingkungan adalah bom waktu. “Ketika curah hujan melebihi batas, daerah yang tidak siap secara ekologis pasti tumbang duluan,” ujarnya.
Baca Juga : Pemkot Medan Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam
Pemerintah Daerah Keluarkan Peringatan Siaga
Melihat kondisi yang masih berubah-ubah, pemerintah daerah mengeluarkan peringatan siaga banjir untuk beberapa hari ke depan. Warga diminta tetap waspada, terutama mereka yang tinggal di sepanjang bantaran sungai dan area rendah.
Petugas juga mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri melintasi genangan tinggi ataupun arus deras. “Air bisa terlihat tenang, tapi arus bawahnya sangat kuat. Kami minta warga tetap utamakan keselamatan,” kata Kepala BPBD Agam.
Sementara itu, pendataan kerugian masih berlangsung. Mulai dari rumah rusak, lahan pertanian terendam, hingga fasilitas umum yang tak bisa difungsikan sementara. Pemerintah daerah berjanji mempercepat proses bantuan dan pemulihan setelah situasi stabil.
Harapan Agar Kondisi Segera Pulih
Warga Agam berharap cuaca segera bersahabat. Banjir kali ini menjadi pengingat betapa pentingnya kesiapsiagaan dan perawatan lingkungan. Meski berat, solidaritas antarwarga kembali menjadi kekuatan utama. Dari relawan muda hingga tokoh masyarakat, semua bergerak membantu semampunya.
Di tengah ketidakpastian cuaca, satu hal yang pasti: warga Sumatera Barat, khususnya di Agam, tidak berjalan sendirian. Banyak pihak turun tangan, dan harapan masih tetap menyala meski air meluap di mana-mana.